Inggris | Bahasa Indonesia
   Teras        Tentang kami        Pelayanan        Syarat Dan Kondisi         Hubungi Kami
 
 
Hubungi Kami
PT Tira Cahaya Bali Tour &Travel
Jl Kubu anyar no 17 Kuta Bali
Phone   : 0361 765265 (hunting)
Fax       : 0361 765264
Hp        : 081 236 50400
Pin BB   : 21B7F62E
email     : info@balitiratour.com
 
Hotel di Bali
Hotel di Lombok
Hotel di Jogjakarta
Hotel di Kota Lain
 
Tour Bali
Tour Lombok
Tour Jogjakarta
Tour Borneo
Tour Komodo
 
Bali Cruise
Bali Spa & Massage
Bali Water Sport
Bali Fun Games
Bali Rent Car
 
Bicara Dengan Kami
 
Join Us On
 
obyek wisata
 
Online - 1 User
 
Domestic
International
 
Kami Menerima
  
airlines ticketing hotel booking packages tour optional activity meeting packages
Rabu, 20 Maret 2019
Obyek Wisata

Bali  Areas
Museum Bali
 
Museum Bali terletak dipusat Kota Denpasar, tepatnya di jalan Mayor Wisnu, di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Pada tahun 1910 WFJ Kroon, seorang Asisten Residen untuk Bali Selatan, mencetuskan suatu gagasan untuk mendirikan sebuah museum etnografi guna melindungi benda ? benda budaya dari kepunahan. Gagasan tersebut mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan dukungan segenap raja ? raja seluruh Bali. Selanjutnya Kroon memerintahkan Curt Grundler seorang arsitek berkebangsaan Jerman, untuk membuat perencanaan bersama ? sama dengan para undagi akhli bangunan tradisional Bali, antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel dari Denpasar. Setelah melalui persiapan yang cukup matang diputuskan untuk mendirikan bangunan museum yang berupa bentuk arsitektur kombinasi antara Pura ( tempat sembahyang ) dan Puri ( istana raja ). Museum dibuka secara resmi pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama BALI MUSEUM dan dikelola oleh Yayasan Bali Museum. Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 Bali Museum diambil alih oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali, kemudian pada tanggal 5 Juli diserahkan kepada Pemerintah Pusat dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan menjadi museum umum dengan nama Museum Negeri Propinsi Bali. Sejak Otonomi diberlakukan pada tahu 2000, Museum Negeri Propinsi Bali diserahkan kembali ke Pemerintah Propinsi Bali sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan Propinsi Bali dengan nama UPTD MUSEUM BALI.
Untuk dapat menyaksikan dan memahami koleksi secra kronologis, pengunjung diharapkan mulai dari gedung Denpasar dan berakhir di gedung Tabanan.

1. Gedung Denpasar Lantai I

Pada ruang ini dipamerkan koleksi Parsejarah dan Sejarah Bali
Koleksi peningalan Zaman Prasejarah yang meliputi benda ? benda yang dikelompokkan kedalam 4 (empat) masa yaitu

a. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana

b. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

c. Masa bercocok tanam

d. Masa perundagian

Sedangkan Koleksi Zaman Sejarah dikelompokkan menjadi 3 ( tiga ) periode yaitu :

a. Zaman Bali Kuno

b. Zaman Bali Pertengahan

c. Zaman Bali Baru.

2. Gedung Denpasar lantai II

Pada ruang ini dipamerkan benda ? benda koleksi yang menunjukkan perkembangan seni rupa Bali, khususnya seni lukis dan patung yang berkembang sejak abad ke ? 16 Masehi sampai masa kini yang meliputi gaya klasik, gaya tradisional dan gaya modern / akademis.

3. Gedung Buleleng

Gedung ini memamerkan koleksi perkembangan Kain Tradisional Bali yang ditata dari bentuk yang paling sederhana samapi dengan yang paling rumit dan dikelompokkan menurut jenis yaitu : Jenis kain polos, kain poleng, kain endek, kain cepuk, kain songket, kain prada dan kain geringsing. Disamping itu juga dipamerkan beberapa peralatan tenun tradisional.

4. Gedung Karangasem

Koleksi yang dipamerkan pada ruang ini meliputi benda ? benda peralatan upacara Panca Yadnya, lima jenis upacara / korban suci yaitu : Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya yang dipajang dari utara ke selatan.

5. Gedung Tabanan

Pada gedung ini dipamerkan berbagai peralatan seni tari dan tabuh tradisional terutama yang erat hubungannya dengan upacara ? upacara agama seperti : tari Sanghyang, tari Barong, tari Baris, Wayang Kulit dan sebagainya. Pada garis besarnya seni tari di Bali dapat digolongkan kedalam 3 (tiga ) jenis yaitu :

a. Tari Wali

Adalah tari ? tarian yang ditarikan pada upacara ? upacara keagamaan yang pada umumnya tidak memakai cerita antara lain tari Sanghyang, Rejang, Pendet, Baris Gede, Barong Landung, Barong Brutuk, Mekare (perang pandan ) dan sebagainya

b. Tari Bebali

Adalah tari ? tarian sebagai pengiring atau sebagai sarana pelengkap upacara antara lain : Tari Topeng, Barong Ket, Wayang Kulit, Wayang Wong dan sebaginya.

c. Tari Balih ? balihan

Adalah Tari Bali berfungsi hanya sebagai hiburan yang dipentaskan untuk umum .

Koleksi yang dipamerkan pada gedung ini antara lain : Barong Landung/Jero Gede, Jero Luh, Sarana tari ? tarian sakral seperti Sanghyang Dedari, Taming Magoret, topeng wayang wong, topeng babad, dan berbagai jenis topeng barong, topeng telek dan bergagai jenis topeng rangda.

MUSEUM BALI

Museum Bali terletak dipusat Kota Denpasar, tepatnya di jalan Mayor Wisnu, di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Pada tahun 1910 WFJ Kroon, seorang Asisten Residen untuk Bali Selatan, mencetuskan suatu gagasan untuk mendirikan sebuah museum etnografi guna melindungi benda ? benda budaya dari kepunahan. Gagasan tersebut mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan dukungan segenap raja ? raja seluruh Bali. Selanjutnya Kroon memerintahkan Curt Grundler seorang arsitek berkebangsaan Jerman, untuk membuat perencanaan bersama ? sama dengan para undagi akhli bangunan tradisional Bali, antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel dari Denpasar. Setelah melalui persiapan yang cukup matang diputuskan untuk mendirikan bangunan museum yang berupa bentuk arsitektur kombinasi antara Pura ( tempat sembahyang ) dan Puri ( istana raja ). Museum dibuka secara resmi pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama BALI MUSEUM dan dikelola oleh Yayasan Bali Museum. Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 Bali Museum diambil alih oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali, kemudian pada tanggal 5 Juli diserahkan kepada Pemerintah Pusat dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan menjadi museum umum dengan nama Museum Negeri Propinsi Bali. Sejak Otonomi diberlakukan pada tahu 2000, Museum Negeri Propinsi Bali diserahkan kembali ke Pemerintah Propinsi Bali sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan Propinsi Bali dengan nama UPTD MUSEUM BALI.
Untuk dapat menyaksikan dan memahami koleksi secra kronologis, pengunjung diharapkan mulai dari gedung Denpasar dan berakhir di gedung Tabanan.

1. Gedung Denpasar Lantai I

Pada ruang ini dipamerkan koleksi Parsejarah dan Sejarah Bali
Koleksi peningalan Zaman Prasejarah yang meliputi benda ? benda yang dikelompokkan kedalam 4 (empat) masa yaitu

a. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana

b. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

c. Masa bercocok tanam

d. Masa perundagian

Sedangkan Koleksi Zaman Sejarah dikelompokkan menjadi 3 ( tiga ) periode yaitu :

a. Zaman Bali Kuno

b. Zaman Bali Pertengahan

c. Zaman Bali Baru.

2. Gedung Denpasar lantai II

Pada ruang ini dipamerkan benda ? benda koleksi yang menunjukkan perkembangan seni rupa Bali, khususnya seni lukis dan patung yang berkembang sejak abad ke ? 16 Masehi sampai masa kini yang meliputi gaya klasik, gaya tradisional dan gaya modern / akademis.

3. Gedung Buleleng

Gedung ini memamerkan koleksi perkembangan Kain Tradisional Bali yang ditata dari bentuk yang paling sederhana samapi dengan yang paling rumit dan dikelompokkan menurut jenis yaitu : Jenis kain polos, kain poleng, kain endek, kain cepuk, kain songket, kain prada dan kain geringsing. Disamping itu juga dipamerkan beberapa peralatan tenun tradisional.

4. Gedung Karangasem

Koleksi yang dipamerkan pada ruang ini meliputi benda ? benda peralatan upacara Panca Yadnya, lima jenis upacara / korban suci yaitu : Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya yang dipajang dari utara ke selatan.

5. Gedung Tabanan

Pada gedung ini dipamerkan berbagai peralatan seni tari dan tabuh tradisional terutama yang erat hubungannya dengan upacara ? upacara agama seperti : tari Sanghyang, tari Barong, tari Baris, Wayang Kulit dan sebagainya. Pada garis besarnya seni tari di Bali dapat digolongkan kedalam 3 (tiga ) jenis yaitu :

a. Tari Wali

Adalah tari ? tarian yang ditarikan pada upacara ? upacara keagamaan yang pada umumnya tidak memakai cerita antara lain tari Sanghyang, Rejang, Pendet, Baris Gede, Barong Landung, Barong Brutuk, Mekare (perang pandan ) dan sebagainya

b. Tari Bebali

Adalah tari ? tarian sebagai pengiring atau sebagai sarana pelengkap upacara antara lain : Tari Topeng, Barong Ket, Wayang Kulit, Wayang Wong dan sebaginya.

c. Tari Balih ? balihan

Adalah Tari Bali berfungsi hanya sebagai hiburan yang dipentaskan untuk umum .

Koleksi yang dipamerkan pada gedung ini antara lain : Barong Landung/Jero Gede, Jero Luh, Sarana tari ? tarian sakral seperti Sanghyang Dedari, Taming Magoret, topeng wayang wong, topeng babad, dan berbagai jenis topeng barong, topeng telek dan bergagai jenis topeng rangda.
Copyright (c) 2008 by PT TIRA CAHAYA BALI TOUR & TRAVEL
Kantor Pusat : Jl Banjar Anyar 17 Kuta - Bali 80361    Phone : (0361) 765265, 754015    Fax : (0361) 765264